KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa atas rahmat dan karunianya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah.
Penyusun menyadari, penyusunan
makalah ini masih jauh dari sempurna, serta masih banyak kekurangan. Penyusun
mohon kritik dan saran dari rekan-rekan semua ke arah kesempurnaan makalah ini.
Penyusun berharap, makalah ini bisa
bermanfaat bagi penyusun sendiri ataupun semua pihak yang memerlukan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Agama dan filsafat memainkan peran yang
mendasar dan fundamental dalam sejarah dan kehidupan manusia. Agama memang
tidak mudah untuk di defenisikan karena agama mengambil bentuk yang
bermacam-macam, namun semua orang berkesimpulan bahwa agama segala yang
menunjukkan pada kesucian, rasa suci. Orang-orang yang mengetahui secara
mendalam tentang sejarah agama dan filsafat niscaya memahami secara benar bahwa
pembahasan ini sama sekali tidak membicarakan pertentangan antara keduanya dan
juga tidak seorang pun mengingkari peran sentral keduanya. Sebenarnya yang
menjadi tema dan inti perbedaan pandangan dan terus menyibukkan para pemikir
tentangnya sepanjang abad adalah bentuk hubungan keharmonisan dan kesesuaian
dua mainstream disiplin ini. Sebagian pemikir yang berwawasan dangkal
berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang ekstrim,
dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak
"ternodai" dan "tercemari" mesti dipisahkan dari pembahasan
dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak
membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan
akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati
nilai-penting kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki.”
Sebagian pemikir yang berwawasan
dangkal berpandangan bahwa antara agama dan filsafat terdapat perbedaan yang
ekstrim, dan lebih jauh, dipandang bahwa persoalan-persoalan agama agar tidak
"ternodai" dan "tercemari" mesti dipisahkan dari pembahasan
dan pengkajian filsafat. Tetapi, usaha pemisahan ini kelihatannya tidak
membuahkan hasil, karena filsafat berhubungan erat dengan hakikat dan tujuan
akhir kehidupan, dengan filsafat manusia dapat mengartikan dan menghayati nilai-penting
kehidupan, kebahagian, dan kesempurnaan hakiki.
Di samping itu, masih banyak
tema-tema mendasar berkisar tentang hukum-hukum eksistensi di alam yang masih
membutuhkan pengkajian dan analisa yang mendalam, dan semua ini yang hanya
dapat dilakukan dengan pendekatan filsafat. Jika agama membincangkan tentang
eksistensi-eksistensi di alam dan tujuan akhir perjalanan segala maujud, lantas
bagaimana mungkin agama bertentangan dengan filsafat. Bahkan agama dapat
menyodorkan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian dan pengkajian
filsafat. Pertimbangan-pertimbangan filsafat berkaitan dengan
keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi agama hanya akan sesuai dan sejalan
apabila seorang penganut agama senantiasa menuntut dirinya untuk berusaha memahami
dan menghayati secara rasional seluruh ajaran, doktrin, keimanan dan
kepercayaan agamanya.
Dengan demikian, filsafat tidak lagi
dipandang sebagai musuh agama dan salah satu faktor perusak keimanan, bahkan
sebagai alat dan perantara yang bermanfaat untuk meluaskan pengetahuan dan makrifat
tentang makna terdalam dan rahasia-rahasia doktrin suci agama, dengan ini
niscaya menambah kualitas pengahayatan dan apresiasi kita terhadap kebenaran
ajaran agama. Walaupun hasil-hasil penelitian rasional filsafat tidak bertolak
belakang dengan agama, tapi selayaknya sebagian penganut agama justru bersikap
proaktif dan melakukan berbagai pengkajian dalam bidang filsafat sehingga
landasan keimanan dan keyakinannya semakin kuat dan terus menyempurna, bahkan
karena motivasi keimananlah mendorongnya melakukan observasi dan pembahasan
filosofis yang mendalam terhadap ajaran-ajaran agama itu sendiri dengan tujuan
menyingkap rahasia dan hakikatnya yang terdalam.
1.2.Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud filsafat?
2. Apa yang dimaksud agama?
3. Apa hubungan filsafat dan agama?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian Filsafat
Kata "filsafat" berasal
dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos
pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya "cinta
akan kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran
sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan
yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya.
Dari arti di atas, kita kemudian dapat mengerti
filsafat secara umum. Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu vak
biasa, yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh
kebenaran. Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang
radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu
sedalam-dalamnya. Hal yang membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan
universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yang tersederhana
sampai yang terkompleks. Filsafat, "Ilmu tentang hakikat". Di sinilah
kita memahami perbedaan mendasar antara "filsafat" dan "ilmu
(spesial)" atau "sains". Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam
yang dapat dialami, dapat diindera, atau alam empiris. Ilmu menghadapi soalnya
dengan pertanyaan "bagaimana" dan "apa sebabnya". Filsafat
mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan logis di
antara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yang tidak dapat dipecahkan
dengan ilmu empiris.
Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal hakikat yang ada.
Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal hakikat yang ada.
2.2. Pengertian Agama
Kata agama dalam Kitab suci Al-Qur'an dan hadits Nabi
mempunyai makna antara lain: pahala dan balasan, ketaatan dan penghambaan,
kekuasaan, syariat dan hukum, umat, kepasrahan dan penyerahan mutlak, aqidah,
cinta, akhlak yang baik, kemuliaan, cahaya, kehidupan hakiki, amar ma'ruf nahi
munkar, amanat dan menepati janji, menuntut ilmu dan beramal dengannya, dan
puncak kesempurnaan akal.
Agama ialah suatu sistem credo (tata keyakinan), ritus
(peribadatan) dan sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,
manusia dengan manusia dan alam lainnya sesuai tata ketentuan yang telah
ditetapkan.
Menurut sumbernya agama dibagi menjadi 2 yaitu:
Menurut sumbernya agama dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Agama samawi (agama wahyu atau langit)
2. Agama budaya (agama bumi)
Contoh dari agama samawi salah satumya adalah islam.
Agama islam adalah wahyu dari Allah yang diturunkan pada rosul-Nya sebagai
suatu sistem keyakinan dan tata aturan yang mengatur segala pri kehidupan dan
kehidupan manusia dalam hubungan nya dengan Tuhan, sesama makhluk maupun alam
yang bertujuan mencari keridhoan Allah serta keselamatan dunia dan akhirat.
Agama islam bersumber dari kitab suci yaitu kodifikasi
wahyu Allah swt untuk umat manusia di atas planet bumi berupa Al quran sebagai
penyempurna wahyu-wahyu Allah sebelumnya.
2.3.Hubungan Filsafat dengan Agama
Menurut Hocking (1946), agama
merupakan obat dari kesulitan dan kekhawatiran yang dihadapi manusia,
sekurang-kurangnya meringankan manusia dari kesulitan. Agama merupakan
pernyataan pengharapan manusia dalam dunia yang besar atau jagat raya, karena
ada jalan hidup yang benar yang perlu ditemukan. Agama menjadi suatu lembaga
yang bersemangat untuk memperoleh kehidupan yang baik dan merenungkannya
sebagai suatu tuntutan kosmis. Menusia menjadi penganutnya yang setia terhadap
agama karena manurus keyakinannya agama telah memberikan sesuatu yang sangat
berharga bagi hidupnya yang tidak mungkin dapat diuji dengan pengalaman maupun
oleh akal sepert halnya menguji kebenaran sains dan filsafat karena agama lebih
banyak menyangkut perasaan dan keyakinan. Agama merupakan sesuatu yang ada,
karena keberadaanya itulah makanya agama dikatakan pengkajian filsafat.
Landasan agama atau tauhid meurpkan landasan utama yang perlu diperhatikan dan
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk keselamatan di dunia dan menjadi
bekal di akhirat nanti. Misalnya dalam melaksanakan proses pendidikan dan
pembelajran bagi anak didi, dimna alandasan tauhi dan spritual keagaaamini
menyangkut dengan hakikat menusi asebagai makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena
itu pendidikan dan pemblajarna yang harus dilakukan harus mengacu pada
pembentukan kepribadian anak didik yang sesuai dengan nilai-nilai aqidan dan
spritual kegaman yaitu menurut ajaran agama islam. Pandangan filsafat menurut
agama islam tertung semuanga pada Al-qur’an yang dijadikan seabgaipegangan dan
pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman. Karena dia yakin bahwa semuanya.
Baik hidup, mati, kapan, dan dimanapun ia berada adalah kekuasaan dan kehendak
yang maha kuasa yaitu Allah SWT.
Filsafat merupakan pertolongan yang
sangat penting pula pengaruhnya terhadap seluruh sikap dan pandangan orang,
karena filsafat justru hendak memberikan dasar-dasar yang terdalam mengenai
hakikat manusia dan dunia. Ada beberapa hal yang penting dalam agama yaitu :
menyakini adanya Tuhan yang menciptakan semua yang ada dilangit dan dibumi dan
mengatur semua kehidupan manusia, adanya kebajikan, sifat buruk dan baik dan
lain sebagainya,juga diselidi oleh filsafat karena itu meurpakan atau mungkin
ada secara umum kebenaran dalam agama didasarkan pada waktu atau firman-firman
Allah, sedangkan kebenaran dalam filsafat didasarkan pada pikiran belaka, agama
telah mengaskan bahwa agama itu untuk orang-orang yang berakal dan berilmu
pengetahuan. Maksudnya adalah dalam agama terutama gama islam adanya
aturan-aturan yang ditetapkan Allah, dimnaa aturah Allah adalah wajib, sunat,
haram, makhru dan mubah. Jadi agama dan pendidikan merupakan dual yang saling
berhubungan dan saling berkaitan, maksudnya adalah didalam agama ada
aturan-aturan yang harus dipatuhi sedangkan dalam pendidikan juga ada aturan
yang harus dipatuhi dan semua atuaran baik agama maupun pendiidkan dijalankan
dan diterapkan oleh manusia.
Dimana dapat dikatakan hubungan
filsafat dengan agama diantaranya : setiap orang diharapkan merenung
dalamhikmah untuk menjadi prosesn pendidikan dan usaha-usaha pendidkan suatu
bangsa guna mempersiapkan generasi muda dan warga negara agar beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan menjadi warga negara sadar dan insaf
tentang hidup serta mempunyai tauladan yang dapat dijadikan perinsip dan
keyakinan.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Filsafat dan agama mempunyai
hubungan yang terkait dan reflesif dengan manusia artinya keduanya tidak ada
alat penggerak dan tenaga utama di dalam diri manusia, yang dikatakan alat dan
penggerak tenaga utama pada diri manusia adalah akal, pikiran, rasa, dan
kenyakinan. Dengan alat ini manusia akan mencapai kebahagiaan bagi dirinya.
Agama dapat menjadi petunjuk, pegangan serta pedoman hidup bagi manusia dalam
menempuh hidupnya dengan harapan penuh keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Manakala manusia menghadapi masalah yang rumit dan berat, maka timbullah
kesadaranyna, bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak berdaya untuk
mengatasinya dan timbulnya kepercayaan dan keyakinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar